Header Ads Widget

6 Alasan Psikologis Mengapa Orang Membeli Produk Anda

Pebisnis mana yang tidak ingin melihat usaha yang dijalankannya tumbuh dan berkembang menjadi lebih besar. Untuk mewujudkan itu, sudah pasti banyak hal yang perlu ditingkatkan.

Salah satu faktor untuk meningkatkan bisnis adalah konsumen. Semakin banyak konsumen yang mengambil dan membeli produk atau menggunakan jasa Anda, semakin cepat Anda dapat memperoleh profit bisnis.

Semakin mengalir pemasukan, semakin besar peluang Anda untuk merealisasikan ide-ide baru Anda untuk mengembangkan bisnis.

Tetapi kebanyakan pebisnis hanya memikirkan bagaimana caranya mendapat profit besar dengan menerapkan berbagai strategi.

Padahal, belum tentu startegi yang digunakan dapat menarik konsumen.

Para pebisnis suka lupa, disamping mengejar profit sebenarnya memahami perilaku dan pemikiran calon konsumen juga merupakan suatu hal yang menarik.

Ada sebuah pertanyaan umum yang sering Anda dengar, tetapi belum tentu bisa dijawab secara jelas.

“Sebenarnya apa yang membuat seseorang mengambil keputusan untuk mengambil sebuah penawaran dan membeli produk?”

Dalam artikel kali ini Anda akan diajak untuk mengetahui serta memahami apa yang membuat orang-orang membeli sebuah produk atau jasa.

Yuk, langsung saja  kita mulai.

 

Mengapa Orang Memutuskan untuk Membeli?


Biasanya seseorang akan melakukan pertimbangan lebih dulu sebelum ia memutuskan untuk membeli. Sebuah pertimbangan berkaitan langsung dengan psikologis orang tersebut.

Dalam membuat keputusan apapun, manusia cenderung berpikir dan melakukan pertimbangan sesuai dengan pola pikir dan kondisi psikologisnya.

Dengan memahami pola pikir dan kondisi psikologis, Anda dapat melihat berbagai macam kecenderungan ini. Mencoba menerapkannya dalam strategi pemasaran justru akan membuat Anda menjadi tepat sasaran dalam memasarkan sebuah produk.


Berikut ini ada 6 alasan psikologis yang membuat orang mengambil dan membeli produk Anda :

alasan orang mau membeli produk anda
Credit by Canva


1. Otak Manusia Dirancang untuk Mengambil Keputusan secara Implusif (Terburu-buru)

Penelitian yang telah dilakukan oleh Chase, Gallup, dan Harris Interactive menunjukkan bahwa kebanyakan orang melakukan pembelian secara impulsif.

Dapatkah Anda mengingat kapan terakhir kali Anda berbelanja di toko, toko online, pasar, atau supermarket?

Apakah waktu itu Anda memilih produk dengan waktu yang cepat dan spontan?

Mayoritas orang akan melakukan pembelian dengan cepat.

Sistem berpikir yang digunakan manusia ketika mencari sebuah produk ialah dengan menggunakan teknik berpikir heuristik.

Jarang sekali seseorang melakukan pertimbangan yang lama saat membeli sebuah produk.


Jika Anda perhatikan, perusahaan-perusahaan yang menjual produk atau jasa akan menggunakan kalimat promosi seperti:

•  buy now

•  try it now

•  subscribe now

•  get it now


Menurut sebuah penelitian, otak manusia memiliki sedikit kemiripan dengan otak reptil, terutama di bagian neocortex. Bagian tersebut yang membuat manusia berperilaku obsesif-kompulsif layaknya seekor reptil.

Sementara itu, kata “now" merupakan kata yang dapat membuat orang tersugesti untuk segera mungkin membeli produk yang ditawarkan.


2. Otak Manusia Lebih Mudah Memposes Gambar daripada Teks

Coba Anda perhatikan kemasan makanan, kemasan barang elektronik, hingga konten dan penataan halaman website. Hampir seluruhnya sangat mementingkan unsur estetika, penataan warna dan gambar.

Seperti yang pernah diungkapkan oleh Steve Jobs, bahwa hal tersebut hanya akan didapatkan oleh cita rasa dan seni.

Membuat sesuatu yang simpel justru lebih sulit ketimbang membuat sesuatu yang rumit. Begitu pula dengan membuat konten pemasaran dalam bentuk gambar.

Dengan meningkatkan kualitas gambar produk yang ditawarkan, penjualan Anda pun akan meningkat.


3. Warna Biru Diartikan sebagai Lambang Kepercayaan

Jika masih bingung dengan warna yang paling tepat untuk kemasan  atau halaman web, tidak akan ada salahnya untuk memilih warna biru.

Banyak sekali situs terbaik di dunia menggunakan warna ini sebagai tema. Seperti Facebook, Twitter, Paypal, dan Windows 10 yang didominasi oleh warna biru.

Di Indonesia, perusahaan besar yang menggunakan warna biru sebagai tema misalnya Bank BCA, Bank Mandiri, Kompas Gramedia, Metro TV, dan Bluebird.  Bahkan Muslim Entrepreneur University sendiri juga menggunakan warna biru .

Ada sebuah alasan mengapa perusahaan besar di berbagai bidang industri menggunakan warna biru sebagai temanya.

Dalam cabang ilmu psikologi yang secara khusus mempelajari efek psikologis warna, warna biru juga dapat menstimulasi rasa kepercayaan yang dimiliki oleh seseorang.


4. Otak Manusia akan Mempercayai Brand Ketika Kemasan Produk atau Website Menggunakan Kata yang Tepat

Tahukah Anda,  jika kepercayaan merupakan inti dari proses jual-beli ?

Lantas, Kata seperti apa yang bisa dipercaya oleh banyak orang?

•  Otentik: 

Kebenaran dan otoritas adalah hal yang penting. Sebuah iklan akan dipercayai dibuat oleh orang-orang terpercaya.

•  Terjamin: 

Iklan yang terpercaya bisa menggunakan testimoni pihak ketiga sebagai orang netral.

•  Bergaransi: 

Menurut penelitian yang dilakukan oleh KissMetrics, 60 persen orang akan membeli sebuah produk jika ada sebuah kata yang memiliki asosiasi dengan kata *“garansi”.*

•  Resmi: 

Sebuah produk resmi mencerminkan pada sistem kerja yang berlandaskan pada proses dan standarisasi.


5. Konsumen akan Mengambil Keputusan Berdasarkan Informasi Pertama yang Dilihat

Rata-rata orang selalu mempertimbangkan informasi pertama yang mereka dapatkan ketika dihadapkan pada pengambilan keputusan.

Setelah melihat produk yang ditawarkan secara sekilas, mayoritas konsumen akan melihat harga produk.

Tampilkanlah harga yang sesuai dengan ekspektasi konsumen di toko atau web Anda.

Dari mana kita bisa mengetahui harga yang diekspektasi oleh konsumen? Jawabannya adalah riset harga.


6. Setiap Keputusan Tidak Terlepas dari Sisi Emosional

Jika emosi tidak terlibat di dalamnya, keputusan akan sangat sulit diambil.

Orang yang terlalu rasional terlalu banyak menimbang-nimbang.

Dalam mengambil keputusan secara cepat, seseorang membutuhkan spontanitas. Spontanitas diproduksi melalui naluri atau insting yang hanya bisa dilakukan oleh otak kanan.

Setiap orang melakukan keputusan berdasarkan masukan-masukan fungsi kognitif yang berbeda sehingga emosi juga memiliki peranan yang besar di dalamnya.

Oleh karenanya, orang yang menggunakan emosinya untuk mengambil keputusan cenderung mendapatkan keputusan yang tepat.


Sebagai contoh, seseorang akan membeli produk Anda karena faktor Ketakutan.

Eits.. bukan karena ketakutan gara-gara kita memaksa dan mengancam untuk mebeli produk kita yaa..

Ketakutan merupakan salah satu sisi emosional manusia.

Beberapa orang terdorong membeli karena takut. Ketakutan merupakan pendorong orang membeli yang sangat kuat. 

Contoh, karena takut jelek, perempuan rajin membeli make up dan rutin ke salon. 

Karena takut sakit, orang jadi rajin berolahraga dan membeli multivitamin. 

Ketakutan apa lagi lainnya? 

Orang takut gagal, takut kalau tua hidup sengsara, dan banyak lagi ketakutan lainnya.

Ketika Anda sudah memahami cara berpikir konsumen, maka Anda sudah selangkah lebih baik dalam bidang penjualan.

Jika ingin mendapatkan hasil yang maksimal, gunakan wawasan ini dengan baik. Anda dapat menggabungkan apa yang telah Anda ketahui dengan strategi marketing yang tepat.

Lakukan penelitian, pelajari apa yang Anda dapat, kemudian uji coba, lalu wujudkan dalam bentuk tindakan.


Sumber :

MEU (Muslim Entrepreneur University)

Post a Comment

0 Comments